Thursday, June 25, 2009
Tuesday, June 16, 2009
a note in 23th
Usia manusia adalah rahasia Sang Khalik. Namun konon, jatah usia manusia adalah 60 tahun. Jatah ini mengikuti jatah usia Rasulullah Muhammad saw. Jika hidup adalah dari, oleh dan untukNya, maka umur adalah anak tangga menuju puncak pertemuan denganNya. Dan kita di beri 60 anak tangga untuk mencapainya, suatu jumlah yang tidak bisa aku takar pesannya namun keyakinan ku besar akan maknanya.
Satu, dua, tiga, empat ………dua puluh tiga anak tangga telah kulewati, di setiap anak tangga aku selalu menoleh ke anak tangga tetanggaku. Ada banyak bentuk anak tangga disekitarku.
Aku melihat banyak anak kecil yang bisa memberi banyak kedua orang tuanya meskipun usianya belum tahu makna memberi. Aku iri….
Aku melihat seusiaku yang menorah prestasi tinggi membuat bangga di setiap orang yang dikasihininya. Aku ingin….
Aku melihat perempuan dengan ketangguhan dan kemandiriannya, I would be...
Terkadang aku terlalu mengacuhkan anak tanggaku sendiri. Mungkin saja kotor, berdebu, kusam atau bahkan ada yang rapuh. Entahlah……..
Kuceritakan padamu tentang sejumlah anak tanggaku dulu. Bermain tak ingat waktu, sering lupa pulang kerumah, selalu dimarahi oleh Ummi bahkan dicubit karena bandel, telat bisa baca AlQur’an,alhasil khatamnya juga telat, sholat sekedar ritual terkadang bolong, dan segala prestasi akademik yang biasa-biasa saja. Satu hal yang bisa aku hitung, membuang sampah sembarang tempat sebanyak lima kali, (penting ya???)
Semuanya biasa bukan???
dan.....masih bertahan kah engkau????
Di tangga 23 ini ku ingin melanjutkan sketsa tangga-tangga berikutnya, berbekal teori sketsa indah dan materi pemetaan. Ku mencoba men-sign dan men-desaign anak tangga. Berharap Sang Guru menuntun petaku, kelak akan kupersembahkan indah padaNya.
yang pasti bersamamu......
Satu, dua, tiga, empat ………dua puluh tiga anak tangga telah kulewati, di setiap anak tangga aku selalu menoleh ke anak tangga tetanggaku. Ada banyak bentuk anak tangga disekitarku.
Aku melihat banyak anak kecil yang bisa memberi banyak kedua orang tuanya meskipun usianya belum tahu makna memberi. Aku iri….
Aku melihat seusiaku yang menorah prestasi tinggi membuat bangga di setiap orang yang dikasihininya. Aku ingin….
Aku melihat perempuan dengan ketangguhan dan kemandiriannya, I would be...
Terkadang aku terlalu mengacuhkan anak tanggaku sendiri. Mungkin saja kotor, berdebu, kusam atau bahkan ada yang rapuh. Entahlah……..
Kuceritakan padamu tentang sejumlah anak tanggaku dulu. Bermain tak ingat waktu, sering lupa pulang kerumah, selalu dimarahi oleh Ummi bahkan dicubit karena bandel, telat bisa baca AlQur’an,alhasil khatamnya juga telat, sholat sekedar ritual terkadang bolong, dan segala prestasi akademik yang biasa-biasa saja. Satu hal yang bisa aku hitung, membuang sampah sembarang tempat sebanyak lima kali, (penting ya???)
Semuanya biasa bukan???
dan.....masih bertahan kah engkau????
Di tangga 23 ini ku ingin melanjutkan sketsa tangga-tangga berikutnya, berbekal teori sketsa indah dan materi pemetaan. Ku mencoba men-sign dan men-desaign anak tangga. Berharap Sang Guru menuntun petaku, kelak akan kupersembahkan indah padaNya.
yang pasti bersamamu......
Sunday, May 24, 2009
sebab aku harus berdamai denganmu
sebab aku harus berdamai denganmu
menitih di lorong sesak. sesak akan riuh. riuh dari mereka yang ku coba kenali.
sebab aku harus berdamai denganmu
setelah sekian lama kau menjadi antagonis di hariku.
sebab aku harus berdamai denganmu
menghapusnya adalah mimpi menjelma nyanyian di tidurku.
sebab aku harus berdamai denganmu
berharap dirimu berperan protogonis di sandiwara kisahku.
sebab aku harus berdamai denganmu
meminta engkau jadi malaikat yang melantunkan doa untukku.
doa kesabaran dan kekuatan.
sebab aku harus berdamai denganmu
menyelesaikan kisah yang masih sepenggal ini.
sebab aku harus berdamai denganmu
masih banyak lakon yang harus kita mainkan.
sebab aku harus berdamai denganm
dilain dunia ku ingin tetap berdamai denganmu
menitih di lorong sesak. sesak akan riuh. riuh dari mereka yang ku coba kenali.
sebab aku harus berdamai denganmu
setelah sekian lama kau menjadi antagonis di hariku.
sebab aku harus berdamai denganmu
menghapusnya adalah mimpi menjelma nyanyian di tidurku.
sebab aku harus berdamai denganmu
berharap dirimu berperan protogonis di sandiwara kisahku.
sebab aku harus berdamai denganmu
meminta engkau jadi malaikat yang melantunkan doa untukku.
doa kesabaran dan kekuatan.
sebab aku harus berdamai denganmu
menyelesaikan kisah yang masih sepenggal ini.
sebab aku harus berdamai denganmu
masih banyak lakon yang harus kita mainkan.
sebab aku harus berdamai denganm
dilain dunia ku ingin tetap berdamai denganmu
takut & rindu
500gr senang di campur 100 cc sedih. seperti apa ya ??? nano-nano pun tak mewakili. belum bisa dirasa, sebab bahan-bahan untuk adonan ini belum tercampur semua. belum sempat tepatnya, namun tiba-tiba aku lupa berapa sendok gula yang kutambahkan. parahnya, ternyata bahan ini bukan gula melainkan garam.
hemm...jadilah rasa takut yang menghantui, takut akan hasilnya.
entah kenapa aku takut.....
atau karena rindu yang tak kutolerir
takut dan rindu
bukan kah mereka beradu di antara jeda ini????
hemm...jadilah rasa takut yang menghantui, takut akan hasilnya.
entah kenapa aku takut.....
atau karena rindu yang tak kutolerir
takut dan rindu
bukan kah mereka beradu di antara jeda ini????
Sunday, May 10, 2009
Rindu Padaku
….sampai saat ini aku masih merasa tak perlu untuk hubungan seperti mereka….
Ku usap pelupukku tuk kesekian kalinya, sesekali mengankat buku itu pas di depan mata. Semoga sembab itu tak berbekas diantara keramaian party. Aku malu terlihat cengeng didepan mereka. Itu ratusan hari yang lalu. Mengejanya, membuatku merasa hidup lagi.
Sesaat semua itu menyapaku, bertanya pada hati yang tak dapat lagi memakna. Aku tak akan lagi merasakan semuanya, sebab dia tak sebening dulu. Kosong dan hanya kosong, berulang kali ku merasakannya, lagi-lagi hanya tawar.
Mungkin kau tahu penyebabnya?
Entah kenapa aku merindukan diriku yang lalu,,,,,,,
Ijinkan aku beranjak jauh dari semua ini…….
Ku usap pelupukku tuk kesekian kalinya, sesekali mengankat buku itu pas di depan mata. Semoga sembab itu tak berbekas diantara keramaian party. Aku malu terlihat cengeng didepan mereka. Itu ratusan hari yang lalu. Mengejanya, membuatku merasa hidup lagi.
Sesaat semua itu menyapaku, bertanya pada hati yang tak dapat lagi memakna. Aku tak akan lagi merasakan semuanya, sebab dia tak sebening dulu. Kosong dan hanya kosong, berulang kali ku merasakannya, lagi-lagi hanya tawar.
Mungkin kau tahu penyebabnya?
Entah kenapa aku merindukan diriku yang lalu,,,,,,,
Ijinkan aku beranjak jauh dari semua ini…….
...KOMITMEN...
‘hei bu’, tau nda…saya tunggui q stengah enam di depan rumah, knapa tidak nongol-nongol??apajie!!!’
Oh iya’yach, ujarku dalam hati, tadi siang ku dapat teguran dari sekertaris jurusanku di kampus dengan topic yang sama, beliau agak kecewa sebab ku tak kembali mengumpulkan proposal yang sempat aku perlihatkan sebelumnya. Memang sich, hari itu aku tidak janji. Mungkin aja komentarku yang mempertanyakan prihal pendaftaran proposal terkesan siap sekali, padahal ku memilih pulang untuk sedikit editan sebelum mengumpulkannya. Dan tadi, aku harus berusaha bersikap manis, membujuk beliau yang kecewa atas sikapku. Hari ini aku telah membuat dua orang kecewa dengan judul yang sama ‘aku lalai dengan janji’.
Bukan hari ini saja, beberapa hari yang lalu ku pembimbingku berkomentar ‘fia itu,tidak memegang komitmen’ , beliau kecewa karena selepas bimbingan pertama, aku berujar ‘Insya Allah datang ja besok2 Pak kalau kesulitan ka di kerangka pemkiran ku" dan ku mendatangi beliau tepat 2 minggu setelahnya, bukan esoknya…….hem…..
Entah siapa lagi yang ku buat kecewa pada ku.
Oh iya, Bagaimana denganmu??? Atau mungkin saja sikap mu selama ini merupakan terjemahan akan kekecewaanmu. Tak perlu mengeja terjemahanmu, asal kau tahu ku menghadirkanmu untuk belajar tentang komitmen, bersamamu menantangnya dan aku sering jatuh pada komitmenku sendiri, Ku yakin kau lebih tahu akan itu.
Sepertinya belajar komitmen tak mesti bersamamu…..
catatan singkat 3 minggu yang lalu
Oh iya’yach, ujarku dalam hati, tadi siang ku dapat teguran dari sekertaris jurusanku di kampus dengan topic yang sama, beliau agak kecewa sebab ku tak kembali mengumpulkan proposal yang sempat aku perlihatkan sebelumnya. Memang sich, hari itu aku tidak janji. Mungkin aja komentarku yang mempertanyakan prihal pendaftaran proposal terkesan siap sekali, padahal ku memilih pulang untuk sedikit editan sebelum mengumpulkannya. Dan tadi, aku harus berusaha bersikap manis, membujuk beliau yang kecewa atas sikapku. Hari ini aku telah membuat dua orang kecewa dengan judul yang sama ‘aku lalai dengan janji’.
Bukan hari ini saja, beberapa hari yang lalu ku pembimbingku berkomentar ‘fia itu,tidak memegang komitmen’ , beliau kecewa karena selepas bimbingan pertama, aku berujar ‘Insya Allah datang ja besok2 Pak kalau kesulitan ka di kerangka pemkiran ku" dan ku mendatangi beliau tepat 2 minggu setelahnya, bukan esoknya…….hem…..
Entah siapa lagi yang ku buat kecewa pada ku.
Oh iya, Bagaimana denganmu??? Atau mungkin saja sikap mu selama ini merupakan terjemahan akan kekecewaanmu. Tak perlu mengeja terjemahanmu, asal kau tahu ku menghadirkanmu untuk belajar tentang komitmen, bersamamu menantangnya dan aku sering jatuh pada komitmenku sendiri, Ku yakin kau lebih tahu akan itu.
Sepertinya belajar komitmen tak mesti bersamamu…..
catatan singkat 3 minggu yang lalu
Tuesday, April 28, 2009
Sepakat!!!!!!
Sebagian dari kita mungkin ada yang mencintai seseorang karena keadaan sesaat. Karena dia baik, karena dia pintar, even mungkin dia kaya. Tidak pernah terpikir apa jadinya, kalau dia mendadak jahat, mendadak tidak sepintar dahulu, atau mendadak miskin.Will you still love them, then?
Don’t love someone because of what/how/who they are,
from now on.. start loving someone because you want to
(Test Pack_Ninit Nurlita)
Sepakat!!!!!!!!!
layaknya berteman bukan karena dia siapa-siapa melainkan karena dia bukan siapa-siapa.
hem.........
Subscribe to:
Posts (Atom)
